Di
era globalisasi seperti saat ini , banyak orang yang mengabaikan pentingnnya pendidikan
, terutama anak muda. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang
dari pada menuntut ilmu dengan baik. Hal itu terbukti dengan seringya membolos yang
dilakukan olehg siswa-siswa tertentu, kasus lainya yaitu sering mengabaikan
tugas yang di berikan oleh bapak/ibu guru, dan sering melanggar peraturan. Sebagai
seorang pemuda seharusnya kita sadar bahwa pemuda adalah generasi penerus bangsa
, dan pendidikan adalah aspek yang penting untuk dapat memperbaiki keadaan/kepemerintahan
bangsa untuk kedepanya, khususnya bangsa Indonesia.
Dahulu hanya kaum laki-laki yang eksis dalam segala bidang terutama pendidikan , peperangan. Namun pada zaman sekarang, sejak adanya Raden Ajeng Kartini eksistensi para perempuan mulai bermunculan. Wanita yang dulunya hanya berdiam diri dirumah dan didapur, sekarang kaum perempuan banyak yang bekerja diluar rumah bahkan ada yang menjadi pemimpin. Kita harus selalu mengenang jasa-jasa R.A Kartini.
Sosok
perempuan yang sangat berjasa lainya adalah Malala Yousafzai , khususnya berjasa
kepada perempuan-perempuan di Pakistan. Dia lahir pada 12 Juli 1997, dia terkenal
dengan keberanianya
dan
“remaja perempuan yang berjuang untuk
hak-haknya” dan dia juga akan mengabdikan hidupnya untuk pendidikan anak
perempuan. Dia juga pernah mendapat penghargaan HAM Uni Eropa.
Terbaru 20 November 2013 - 20:15 WIB
Penghargaan Sakharov untuk Malala diserahkan oleh
presiden parlemen Eropa, Martin Schulz. Remaja dari Pakistan yang ditembak
Taliban karena mengkampanyekan pendidikan untuk anak-anak perempuan, Malala
Yousafzai, mendapatkan penghargaan hak asasi manusia dari Uni Eropa.Malala
diserang oleh orang-orang bersenjata di Pakistan tahun lalu ketika berada di
atas bus, dalam perjalanan menuju sekolah.Malala ini diserahkan oleh presiden
parlemen Eropa, Martin Schulz, hari Rabu (20/11) yang menyebut gadis yang
sekarang menetap di Birmingham, Inggris ini sebagai pahlawan."Anda telah
memberikan harapan kepada jutaan orang," kata Schulz dalam upacara
penghargaan di Strasbourg, Prancis.Malala yang kini berusia 16 tahun
mempersembahkan hadiah ini kepada para pahlawan tak dikenal di Pakistan dan
menyerukan pendidikan bagi jutaan anak di seluruh dunia. 'Tak butuh
iPhone'"Anak-anak tak menginginkan iPhone, Xbox ... yang mereka butuhkan
adalah buku dan pena."Malala Yousafzai"Anak-anak tak menginginkan
iPhone, Xbox atau coklat," kata Malala seperti dikutip kantor berita AFP."Yang
mereka inginkan adalah buku dan pena," katanya yang disambut tepuk tangan
meriah pada hadirin.Pengumuman penerima Penghargaan Sakahrov dikeluarkan bulan
lalu.Penghargaan diberikan untuk mengenang dan menghormari ilmuwan dan pegiat
Soviet, Andrei Sakharov.Tokoh-tokoh yang mendapatkan penghargaan ini di masa
lalu di antaranya adalah pejuang penentang apartheid yang kemudian menjadi
presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan Aung San Suu Kyi, tokoh oposisi yang
kini menjadi anggota parlemen Myanmar.Mantan Sekjen PBB Kofi Annan juga adalah
penerima penghargaan ini.Malala adalah penerima Penghargaan Sakharov yang
ke-25.
Menyimak
kasus diatas, kita Sebagai seorang mahasiswi, seharusnya mengikuti jejak-jejak
yang telah dilakukan oleh R.A Kartini dan Malala. Pertama , di Indonesia sering
terjadi kasus-kasus pelanggaran tentang hak anak, pelanggaran tersebut
dilatrabelakangi oleh ketidaktahuan tentang hak-hak, oleh karena itu kita
sebagai mahasiswa melakukan sosialisasi dan memberlakukan penegakan hukum
terhadap pelanggar hak anak. Kedua, keberanian Malala menyampaikan pandangannya,
hendaknya juga bisa diapresiasi di Indonesia tentunya agar bisa mendorong anak
Indonesia untuk menampilkan pandanganya tentang berbagai masalah yang mereka
(masyarakat) hadapi. Ketiga , selama ini anak-anak Indonesia hanya mengenal
tokoh yang dikaitkan dengan popularitas dibidangnya masing-masing. Seperti di
bidang olahraga,musik, boy band, girl band, dll. Akan lebih baik jika kita
sebagai mahasiswa mengenalkan tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan segi perjuanganya
kepada anak-anak atau murid kita kelak. Seperti perjuangan yang telah dilakukan
oleh Raden Ajeng Kartini dan Malala.
Semoga apa yang telah dilakukan / diperjuangkan oleh
dua tokoh wanita seperti apa yang telah penulis paparkan diatas bisa menginspirasi
kita sebagai masyarakat yang baik untuk lebih memperhatikan hak-hak anak dan pendidikan
untuk anak, mengingat banyak masyarakat yang mengabaikan hal tersebut. Bahkan masyarakat
itu sendiri banyak yang tidak berpendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar